Dalam harapannya ada rasa takut, dan dalam takutnya ada rasa harap

“Dan yang amat kuinginkan tuk mengampuni kesalahanku pada Hari Pembalasa
(QS. Asy-Syu’araa’ (26) : 82

“Keinginan Ibrahim yang paling puncak,” kata Sayyid Quthb melanjutkan tadabburnya dalam Fi Zhilalil Qur’an, “adalah harapan semoga Allah mengampuni dosa-dosanya pada Hari Kiamat.”

Betapa bersahajanya, tetapi penuh tata krama. “Jadi Ibrahim tidak merasa bebas dari kesalahan,” sambung Sayyid Quthb,”dia justru senantiasa kwatir atas kesalahan yang dilakukannya.” Dalam harapannya ada rasa takut, dan dalam takutnya ada rasa harap.

Demikianlah orang mulia. Seperti kata Imam Asy-Syafi’i, “Orang yang paling mulia, adalah dia yang paling merasa tak punya kemuliaan. Orang yang paling luhur, adalah dia yang paling merasa tak punya keluhuran.” Kebalikannya digambarkan oleh Bisyr ibn Al-Harits, “Dia yang merasa tak bersalah, adalah yang paling besar kesalahannya.”

Demikian besar rasa malu dan ketundukannya pada Allah, hingga Ibrahim tidak bersandar pada amalnya. “Dan dia tak pernah memandang bahwa bersebab amal itu dirinya berhak atas sesuatu,”simpul Sayyid Quthb. Hanya saja dia sangat berharap pada karunia Rabb-Nya dan sangat mengiba pada rahmat-Nya. Maka puncak keinginannya adalah kemaafan dan ampunan-Nya.

Dinukil dari buku #mncrgknskl

Karya Salim A. Fillah & Zaky A. Rivai.

Pondok Kelapa

130618.20:50

#satuharisatutulisan

#semogabermanfaat

#semogaistiqomah

Ade M. Badriah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s