Macam-macam Penghafal Al-Quran dan Manhaj Menghafal Al-Quran

Membaca semua pertanyaan yg masuk, kita tarik kesimpulan utk materi khusus malem ini;

*2. _Macam-macam Penghafal Al-Quran_*
*3. _Manhaj Menghafal Al-Quran._*

Kita fokus ke dua itu dulu, insya Allah sebelum bbrp poin lainnya. Semoga diizinkan Allah.

Anak² yg baru belajar ngaji juga tau, ga muluk² menjadi Ahlu Qur’an itu. Perjuangannya melebihi apa². Ga heran Allah seleksi dulu org²nya. Cek di antara 3 kategori berikut, kita sedang di posisi apa? Karena ketiganya adalah macam-macam dari penghafal Al-Quran yg kita maksud malem ini;

1. _Dzalimun li nafsih,_

penghafal Al-Qur’an tapi dzalim (menganiaya) ke diri sendiri dengan tindakan maksiatnya. Makanya kita nemu ada nih, kiayai, ustad/ah yg terlibat misal skandal nyeleneh, korupsi misal, atau masih nemu ust/ah yg jauh dari adab Islam. Kaya misal ada hafid/ah tapi dia masih ngerokok, pacaran, dll. Adaaa. Atau akhlaknya ga banget. Ga punya kelembutan, kasih sayang ke sesama bahkan hewan-hewan dan tumbuhan. Masih suka ngeghibah. Masih suka menzholimi org lain. Msh suka nyamlurin yg bener dan salah. Suka banget sama subhat dg dalih itu gpp. Atau jgn² kita sendiri malah yg di posisi ini. Baru punya hafalan sebatas *3 qul,* tapi belagu dg amalan² kita. Suka maksiat sembunyi-sembunyi.

2. _Muqtashid,_

penghafal Al-qur’an dengan jumlah dan mutu amal ibadahnya sedang² aja. Hafalan ada, cuma ibadah lain ga nambah. Dia ngandelin Alquran doangan. Ga berani keluar dari zona tambahannya. Jadilah dia pribadi yg Ahlu ibadah, ogah interaksi sosial. Nah ini. Yg jadi pertanyaan @⁨Nurul Salamah⁩. Pernah nemu sodara/i kita yg hafalannya banyak, tapi menutup diri dari perkembangan zaman. Mengkolotkan diri dg dalih Alquran ga ngajarin itu, katanya. Misal, ada nih kita temuin org yg mengharamkan dirinya utk ga make hp, atau media lainnya. Ga mau tercemar dg semua isu². Bagus sih menjaga diri mah. Cuma thing again, islam ga membatasi kita dari peradaban ko. Terlebih kondisi jaman skg, Islam udh jadi sasaran empuk dari org² yg ga suka Islam. Kita dibodoh-bodohi dg hal² yg harusnya kita tau itu bagian dari jembatan kita memajukan Islam. Kasus simpel lainnya gini, dia ditanyain org² lain tentang sesuatu krn berdasarkan si penanya, dia itu org yg tepat (dg indikator punya hafalan). Ditanyain tentang musik. Tentang pacaran. Tentang hukum ini itu. Dia ngejawab mentah² dari Alquran. Kebayang ga, org yg nanya pnya tanggapan apa? Kabur ga? Kenapa? Krn jawaban itu saklek. Pdhl kalo mau mah, dia kudu baca seluk beluk si penanya, dia kudu pake metode dan sentuhan lainnya spy Alqur’an tadi ga jadi hal yg serem bagi org². Ga bikin org lari. _Cek dah Ali-Imron 159, posisi kanan, pojok kanan atas. Tsaah, ala ustad siapa begini? XD_

3. _Sabiqun bil khoirot,_ penghafal yang sukses mengkaji, mengamalkan, mengajarkan, dan membimbing orang lain untuk mengamalkan Al-Qur’an. Dia jadi pejuang kebajikan. That’s right. Posisi inilah yg pengen kita kejar. Motivasi inilah yg harusnya jadi benteng pertahanan kita dalam menghafal. Gamau yg lain. Mentok di sini aja. Cukup ini aja. Seimbang dunia-akhirat.

Pernah liat org keren di poin ini? Dikit doangan sekarang mah org² begini. Berdoalah spy jadi bagian dari org² itu. Doa. Minta sama Allah. Malah kalo surga aja, Rosullah nyuruh kita minta surga tertinggi, Firdaus. Pas ngomong begitu, Rosullah ga ngasih syarat apa² utk bisa ngedoain begitu. Siapa aja, boleh minta surga tertinggi. Pedosa. Pentaubat. Dll. Jadi jadi penghafal Al-Quran pun, kita kudu minta ada di posisi ini. Kenapa?

Biar kita ga termasuk dalam salah satu dari 3 gol *pertama* yg diadili Allah dg labeling dan tuduhan berdata sebagai berikut;

_”…. Kemudian ada seorang lelaki yg suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, pandai membaca al-Qur’an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yg akan diperoleh karena amalnya._ Allah nanya; _Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?_ Jawabnya; _Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur’an untukMu._ Allah membantah; _Dusta kamu. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur’an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan._ Teruss orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya, dilemparkan ke dalam neraka. Ini di shahih Muslim no hadits 1905.

(Eh seriusan, ini hafalin ya haditsnya. Angkanya gampang diinget ko. Dalem hadits itu ada 3 kategori hamba. Salahsatunya yg kita bahas tadi)

Masih poin 3. Fokus. Org Sabiqun bil khoirot ini emg cakep. Fokus. Mereka itu, cerdasnya wah-wah berlimpah. Kreativitasnya ga berbatas. Menjalani hidup dg ngolah semua ujian yg ada. Kadang, suka nyelesain ujian hidup org lain juga. Di sini sisi muamalahnya. Dia punya beban, sering ga membebani org lain dg bebannya. Org lain ga banyak tau tentang suka-duka hidupnya. Bisa bercanda pada tempatnya. Ga menutup diri dari hal² yg bikin dia berkembang dan bermanfaat. Ga ada tuh berlaku di hidupnya tentang teori² Yahudi yg memaklumatkan bahwa dia introvert. Extrovert. Dll.

Dia berjalan sesuai garis takdirNya sebagai muslim. Dia kejar status *mukmin.* Dia pede aja jadi hamba Allah. Dia manusia biasa. Bisa belajar kaya org² kebanyakan. Suka maen juga. Nonton juga. Ngebakso juga. Beli baju juga. Semua aktivitas hidupnya ga bikin dia lalai dari status Sabiqun bil khoirot tadi. Dia ingat Allah di keramaian dan kesepian. Di senang dan susah. Orgnya kadang ada yg bertipikal energik tapi tau diri. Melankolis tapi ga dramatis dg perkara gaje. Kolerik juga, cuma ga apa² dibawa emosi.

Dia letakkan dunia di genggamannya. Bukan di hatinya. Hatinya udh berisi hal² karena Allah. Ada Alquran di dadanya. Adaa loh org begitu. Makanya kang Abik (ituloh penulis novel no 1 di Indonesia) suka banget nulis tokoh-tokoh yg memerankan sifat-sifat qur’ani dalam diri seseorang. Sosok Fahri misalkan. Tapi saya ga khatam² amat sih novelnya. Sering baca resensi org² doangan, biar ga ketinggalan jaman. *Weleh.

Jadi, inilah hebatnya di poin 3 tadi, Alquran ga membatasi dia mengembangkan kebermanfaatan yg ada. Dia bisa jadi apa aja selagi itu atas maunya Allah. Multitasking. Kalo bahasanya mah, dia pintar memaksimalkan potensi yg ada. Bisa nyanyi, nyanyinya ke arah spiritualis diri. Dia bisa jadi guru meskipun cita²nya ga gitu. Misal.

WAG Iqro’ 280818;22.03

Dinukil

Pondok Kelapa, 110918;22.57

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s