*SIDANG 2 SAHABAT*

Jalannya terburu-buru. Detak jantungnya tak menentu. Kakinya terseok-seok memburu yang dituju. Kedua tangannya menggenggam ujung bagian bawah baju, lututnya terlihat lusuh. Baru saja ia ditolak. Hingga tak mampu berbuat banyak meski telah mendesak. Deretan kata maafnya didiamkan. Tadi, sebelum tragedi marahan, ia dan sahabatnya bertutur hangat. Menikmati suasana siang Madinah yang teduh-teduh berterik penuh nikmat. Diskusi keduanya kian menarik, hingga di pertengahan tanpa sengaja diksi yang dilepasnya berujung penyakit.

Dibentangkannya kedua tangan. Dihamburkannya paragraf permohonan. Kekeliruan. Harapannya, sang sahabat mau memaafkan, bahwa tadi hanya sejumput kekeliruan. Seberkas keterburuan mengungkapkan pesan. Sahabatnya terlanjur luka. Dan ia mengerti, tak terlambat menyesali karena telah menoreh kecewa. Meski sahabatnya tadi berlari dari diskusi, mengunci rumah dan menolak membukakan pintu. Harapannya tak menemui jalan buntu. Itulah kenapa ia pilih untuk mengadu, Rosulullah pasti mau untuk membantu. Begitu, pikirnya tanpa ragu. Ia atur nafas dan langkah kaki yang melaju. Meski tersengal disesaki rasa menyesal.

Pikirannya terbata-bata. Gelagatnya panik tanpa rekayasa. Ia tak peduli, ada banyak hati yang bertanya-tanya tentangnya di setiap jalan yang dilewati. Tak ada jawaban, tapi sebuah penjelasan terlayangkan oleh suara tak asing dari kejauhan; _Teman kalian itu, sesungguhnya sedang dalam masalah serius dan ia kesulitan._ Begitu papar sang manusia pilihan. Semua telinga masih menyimak. Ia melanjutkan; _telah terjadi sebuah pertengkaran._

Laki-laki itu tiba tepat di arah suara yang berkumandang. Ia sampaikan salam dengan penuh ketakziman berbungkus kekhawatiran. _”Yaa Rosulullah.”_ Begitu mukaddimahnya. _”Sesungguhnya telah terjadi perkara antara aku dan Umar. Aku terburu-buru memarahi ‘Umar, namun akhirnya aku menyesal. Hanya saja, tiada pemaafan bagiku dari ‘Umar.”_ Celotehnya dengan gusar. ‘Umar, anak Al Khattab, sang tetua yang disanjung dan terkenal seantero Makkah hingga kabilah sebelah dengan harta yang membuatnya tenar. ‘Umar, sosok yang ia cintai urutan kedua di muka bumi setelah Nabi. ‘Umar, tempat berbagi privasi juga keromantisan interaksi. ‘Umar. Itu nama sahabat yang membuatnya menyesal bertutur kasar. Pemuda Ukazh sebelum iman merasuk ke nadinya yang berperawakan tegas.

Siang itu, harapannya hanya satu. Rosulullah jadi perantara antara ia dan ‘Umar. Tiga kali Rosulullah merayu dan meyakinkan batinnya di tengah majelis itu. _”Allah mengampunimu yaa Abu Bakar.”_ Tiga kali pesan diulangi oleh sang kekasih. Seakan-akan tak mengapa. Tak mengapa bila tak ada manusia satupun bahkan ‘Umar tak memaafkannya. Karena Allah punya ampunan terhadap Abu Bakar. Tetap saja, gerak-geriknya menyiratkan pesan, ia menyesal. Sungguh-sungguh menyesal. Ia mematung di hadapan Nabi dan orang-orang.

Di belahan sana, ‘Umar tergerak membukakan pintu rumah. Hatinya terketuk untuk memaafkan. ‘Umar tiba-tiba tersadar, sungguh kekeliruan Abu Bakar bukanlah sebuah kesalahan. Itulah kenapa ia buka pintu kemaafaan. Dadanya diselimuti penyesalan. Ia atur langkah menemui rumah Abu Bakar. Ia ketuk dan bertanya ada di mana sahabatnya. Penghuni rumah tak tahu ada di mana kini Abu Bakar. ‘Umar tergerak untuk berbagi kisah, ia lanjutkan langkah menemui Rosulullah. Tibalah ia di sana. Di hadapan kekasih juga sahabatnya yang berselisih tadi.

Hari itu, semua mata tertuju pada Rosulullah. Semua mata menangkap pesan marahnya Rosulullah. Mereka lupa tentang Abu Bakar yang mengadu, tidak pula menunggu Umar yang baru tiba untuk berkeluh. Semua telinga menyimak wanti-wanti dan pembelaan Rosulullah. Abu Bakar sadar diri. Abu bakar memberanikan nyali. Abu bakar tahu, sahabatnya akan segera dimarahi dan diadili. Abu Bakar ambil diri, disimpuhkannya ke dua lutut di hadapan Nabi. Tangisnya terguncang, ia takut Rosulullah memurkai ‘Umar yang sedang kebingungan. _”Yaa Rosulullah, akulah yang menzholimi ‘Umar. Akulah yang menzholiminya.”_ Abu bakar terus saja membela ‘Umar dengan airmata yang tumpah ruah.

‘Umar serba salah. Ia tahu, Rosulullah sedang menatapnya penuh amarah saat ia baru tiba. Wajah Rosulullah memerah tanpa menghiraukan salamnya. _“Allah mengutusku kepada kalian! Lalu kalian (dulu) mengatakan, “Engkau (wahai Muhammad) berdusta!”, namun Abu Bakar berkata, “Ia (Muhammad) benar!” Ia telah melindungiku dengan diri dan hartanya. Bisakah kalian membiarkan sahabatku ini bersamaku??”_ Tahulah ‘Umar, ia telah menyakiti hati Rosulullah. Mengertilah ‘Umar, rasa marahnya pada Abu Bakar adalah kekeliruan besar. ‘Umar sesenggukan. Abu bakar apalagi. Sidang berakhir, hingga akhir waktu selepas itu, semua manusia tak berani menyakiti Abu Bakar. Semua tahu diri, tanpa kehilangan esensi imani.

*Marahan.* Dalam batas logika dan permainan perasaan, kadang-kadang kita merasa paling benar daripada si kawan. Lucunya lagi, berharap si kawan memulai permintaan maaf duluan. Tanpa meraba peristiwa yang terjadi, menyingkapnya untuk dimaklumi. Manusia, terkadang cenderung menyalahkan keadaan dan menjadikan kawan selaku kawan. Pertarungan dimulai dari standar _unjuk benar dan tuding salah_ yang jadi masing-masing perlombaan. Mengalah hanya dipakai atas dasar kelemahan. Bersikap terima karena takut kehilangan. Bukan sebatas wawasan dan kebijaksanaan. Pemaafan kadang-kadang dipakai karena suatu kepentingan.

*Persahabatan pasti diuji.* Kisah Abu Bakar dan ‘Umar tak hanya ada di skenario ini. Ada lagi. Semacam kontemplasi diri, kita diajak mengagumi. Yang marah karena emosi, cintalah yang akhirnya menegur untuk tak berlama-lama menutup diri. Yang terlanjur mengundang benci, tak malu-malu meredam api permusuhan yang tersuluti. Di sini letak kerendahan hati yang jernih. Tak merasa paling tinggi meski hakikatnya berhak diistimewahi. Persahabatan mengajarkan kesetaraan, sementara perbedaan hanya distandarkan oleh penggerak cahaya Iman.

Ya, *kebersamaan pasti diuji.* Batas lama dan sebentar berlaku di sini. Ujungnya ada dua, bersama atau berpisah. Bergandengan atau melepaskan. Mengingat atau melupakan. Menyoraki ketertinggalan atau menangis memandangi punggung kawan jalan dari kejauhan. Beriringan meski beda jalan. Tak searah namun mengenal dan menyapa dengan penuh kehangatan.

*Kebersamaan,* memang kadang-kadang berpotensi mengalami gesekan. Tapi iman mengajarkan kita jalan pulang. Entah dengan tangan-tangan yang mengulurkan seperti pembelaaan Abu Bakar atas diri ‘Umar di hadapan Rosulullah, atau bahkan merangkak sendiri berpayah-payah. Atau bahkan seperti teguran nabi dalam sebuah majelisnya terhadap seorang sahabat yang merasa tinggi dan paling suci. Lelaki kaya dan kaya sekali. Tapi tetaplah, ia sahabat nabi yang punya standar shalih dibanding kita generasi kini.

Hari itu, ia duduk di majelis nabi bersama orang-orang lain. Tiba-tiba duduk di sebelahnya seorang sahabat yang paling miskin. Seketika ia menarik bajunya, takut tersentuh sahabat yang baru tiba. Rosulullah berubah seketika. Bertanya dua perkara; _Apakah engkau takut kekayaannya akan menyakiti dirinya atau kamu takut kemiskinannya akan menyakitimu?_ Sahabat berbalik tanya; _Yaa Rosulullah, apakah kekayaan itu bisa menjadi keburukan?_ Di akhir kisah, kita tau kedua sahabat ini diadili dengan sejuta esensi.

*Kebersamaan selalu menyulam puing-puing kisah.* Tentang merasa tinggi atau direndahkan, barangkali. Mari belajar dari para sahabat nabi. Padanya bertumpu ragam inspirasi. Di sana, kan kita gali dan temui; masing-masing berlomba meninggikan sahabatnya, saudaranya. Masing-masing berlomba mengakui paling rendah. Tak ada yang merasa paling baik, paling shalih paling berjuang dan ke-palingan yang lain. Tengoklah kisah Ali dan Abu Bakar saat berkunjung ke rumah Nabi. Di depan pintu mereka saling mendorong dan enggan masuk duluan. Masing-masing menceritakan keistimewaan sang kawan. Menjadikan hujjah keistimewaan itu sebagai bentuk ketakziman hingga mendahuluipun enggan.

_”Engkau masuklah duluan, wahai Ali.”_ Seru Abu Bakar. _”Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Abu Bakar, sedang Rosulullah sendiri pernah bersabda tentang mu; “Belum pernah Matahari terbit atau terbenam atas seseorang sesudah para Nabi, lebih utama dari Abu Bakar.”_ Seru Ali.

Abu Bakar membalas; _”Mana mungkin aku akan mendahuluimu, wahai Ali. Sedang Rosulullah juga pernah bersabda tentangmu; “Aku telah menikahkan wanita terbaik kepada lelaki terbaik. Aku nikahkan putriku Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib.”_ Ali kembali beralasan; _”mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Abu Bakar. Sedang nabi pernah bersabda; “Kalau iman Umat ini ditimbang dengan Iman Abu Bakar, tentu akan berat timbangan iman Abu Bakar.”_

Abu Bakar tak kehilangan kisah; _”mana mungkin aku akan mendahuluimu, sedang Rosulullah pernah bersabda tentangmu; “dikumpulkan Ali bin Abi Thalib di Mahsyar pada hari kiamat kelak dengan berkendaraan bersama Fatimah, Hasan dan Husain, lalu orang-orang bertanya-tanya, “Siapa gerangan orang tersebut itu?” Lalu ada yang menjawab, “ia bukan seorang Nabi, tetapi Ali bin Abi Thalib dan keluarganya.”_ Ali kembali berdalih; _”mana mungkin aku akan mendahuluimu, wahai Aba Bakar, sedang Rosulullah pernah bersabda tentang engkau: “Kalau aku harus mempunyai kekasih selain dari Rabbku, tentu aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasihku.”_

Sejenak, terdiamlah Abu Bakar, menarik nafas dan berujar; _”mana mungkin aku akan mendahuluimu, wahai Ali, sedang Rosulullah pernah bersabda; “Pada hari kiamat aku bersama Ali, lalu Allah berfirman kepadaku; “Wahai kekasihku, aku telah pilihkan untukmu, Ibrahim al-Khalil sebagai ayah terbaikmu, dan Aku telah pilihkan untuk Ali sebagai saudara dan sahabat terbaikmu.”_

Dialog di atas kian memanjang, saling berpotong-potongan. Hingga Jibril menyudahi dengan meminta Rosulullah menemui keduanya dan meletakkan masing-masing diri mereka di sebelah kanan dan kiri beliau dengan senyum sepadan. Ya, rendahkanlah dirimu terhadap saudaramu. *Karena ketinggian itu cukuplah menjadi bahasa iman.* Bukan paras wajah yang rupawan apalagi peran-peran di medan perjuangan.

—-
*SFW*
#Iqro’warobbukalAkrom
#ShirohJumat

WAG Iqro’ 12.52

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s