Kulwap : Menumbuhkan Semangat Literasi di Rumah

Oleh : Ade Yulia

Pengantar
Literasi tak melulu hanya berkaitan dengan aktivitas membaca. Jika ditelusuri, asal kata literasi sendiri berasal dari bahasa Latin, Literatus yang artinya orang yang belajar.

Ada berbagai pengertian literasi. Salah satunya menurut National Institut for Literacy, yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.

Jadi literasi ini sampai pada kemampuan problem solving untuk permasalahan yang terjadi sehari-hari. Literasi pun erat kaitannya dengan kemampuan untuk mengolah dan memahami informasi.

Itulah mengapa gerakan literasi begitu penting. Karena literasi ini menjadi fondasi bagi manusia dalam berkomunikasi, sekaligus menjadi kunci manusia berpengetahuan dan berperadaban.

*Literasi di Rumah*
Membaca merupakan salah satu pintu masuk menumbuhkan gerakan literasi di rumah. Maka dari itu, penting menyediakan buku bacaan di dalam rumah.

Tak hanya buku bagi orang dewasa, namun kita juga perlu menyediakan buku bagi anak-anak. Karena menumbuhkan rasa cinta buku, tak bisa menunggu nanti. Tapi harus dimulai sedari dini.

Tak sekedar menyediakan, kita sebagai orang tua juga harus mau konsisten membacakan bukunya. Luangkan waktu 10-15 menit setiap harinya.

Sesi membacakan buku ini bisa menjadi sesi untuk mengasah *keterampilan mendengar* anak-anak.

Inilah awal mula untuk mengasah keterampilan berbahasa. Keterampilan mendengar merupakan satu dari empat keterampilan berbahasa. Dengan sering dibacakan buku, anak-anak akan memiliki kemampuan menyimak informasi. Selain membacakan buku, kita juga bisa mendongeng atau bercerita tanpa buku. Rancang sesi bercerita ini menjadi sesi yang menyenangkan bagi keluarga.

Selanjutnya, keterampilan bahasa yang kedua adalah *keterampilan berbicara*. Saat membacakan buku, bukalah ruang diskusi bersama anak-anak. Biarkan anak bertanya tentang kosakata atau konten buku yang belum ia pahami. Tak lupa, minta dia untuk menceritakan kembali cerita yang sudah didengarnya.

Stimulasi kemampuan berbicara juga bisa dilakukan dengan mengajak anak bercerita atau mendongeng bersama. Ajak anak terlibat dalam cerita atau bahkan merangkai cerita secara bergantian. Ini akan menumbuhkan rasa kepercayaan dirinya dalam mengungkapkan ide, pemikiran, dan pendapatnya.

Lantas, keterampilan berbahasa ketiga adalah *keterampilan membaca*. Dengan sering dibacakan buku dan bercerita, akan tumbuh dengan sendirinya, rasa cinta terhadap buku. Buku akan menjadi teman anak untuk mencari pengetahuan baru yang belum diketahui sebelumnya. Jika anak belum bisa membaca, tetap biarkan anak mengekplorasi bukunya. Ini akan menguatkan daya ingat mereka dan kemampuan visual atau mengingat cerita berdasarkan gambar yang ada dalam buku.

Sementara bagi anak yang sudah bisa membaca, jangan lantas berhenti dibacakan buku. Berikan waktu ia membaca sendiri dan sediakan pula waktu spesial untuk membacakan buku baginya. Karena sesi ini akan selalu menyenangkan bagi mereka.

Jangan lupa terus latih kemampuan mereka berbicara dengan meminta menarasikan kembali bahan bacaannya. Selain narasi bertutur, bagi anak yang sudah bisa menulis, latihlah untuk membuat narasi dalam bentuk tulisan. Di sinilah sesi untuk melatih keterampilan berbahasa yang keempat, yakni *keterampilan menulis*.

Selain menarasikan buku yang sudah dibaca, kita juga bisa minta anak untuk menulis karangan pendek atau membuat catatan sehari-hari lewat buku diary.

Stimulasi keempat keterampilan berbahasa ini akan mengasah kemampuan dalam mengolah dan mencerna informasi. Di sinilah literasi bertumbuh dan menjadi seperangkat potensi bagi manusia berpengetahuan dan berperadaban.

Rumus dalam menjalankan literasi di rumah adalah bangun setiap sesinya dengan cara yang menyenangkan dan konsisten. Lewat cara inilah, keterampilan literasi keluarga akan berkembang. Karena dengan mendampingi anak-anak, kita sebagai orang tua pun dituntut untuk senantiasa belajar dan mengembangkan diri. Maka kemampuan seluruh keluarga akan berkembang bersama seirama.

*Sharing Pengalaman*
Saya memiliki dua orang anak perempuan, berusia 4 dan 5 tahun. Keduanya sering saya bacakan buku sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan.

Keduanya suka dibacakan buku dan didongengi. Sesi membaca buku atau mendongeng sebelum tidur di keluarga kami, menjadi sesi yang wajib dilakukan. Anak-anak akan menanti ibu atau bapaknya bercerita untuk mengantar tidur mereka.

Saya juga suka mengajak anak-anak untuk mencoba berbagai cara mendongeng. Mendongeng dengan boneka tangan, mendongeng sambil menggambar, mendongeng sambil bergerak, hingga sembari bermain peran. Saya libatkan anak-anak untuk terlibat dalam cerita. Saya juga seringkali memberikan ruang bagi anak untuk bergantian bercerita di hadapan seluruh keluarga. Kami suka membuat sesi ini menjadi sebuah pertunjukkan kecil yang menyenangkan.

Anak-anak saya belum bisa membaca. Si sulung, Inara, baru mulai mengenal huruf saja. Namun mereka selalu suka berlama-lama membaca buku sendiri alias menikmati gambar sambil mengingat apa yang saya ceritakan dari buku tersebut.

Dunia buku merupakan dunia yang begitu erat kaitannya dengan keluarga kami. Apalagi satu usaha keluarga kami bergerak di penerbitan buku. Maka anak-anak secara langsung belajar bagaimana sebuah buku dibuat.

Mereka suka membuat mini book sendiri, melipat-lipat kertas lalu diberi gambar. Selesai menggambar, anak-anak terutama Inara suka meminta saya untuk menuliskan cerita sesuai apa yang dikatakannya. Ya, Inara sudah mulai merangkai cerita. Di titik ini, saya tak mau ikut campur dalam ide-ide ceritanya yang sangat imajinatif. Dan ada satu cerita yang menurut saya istimewa dan Insya Allah akan menjadi buku karya pertama Inara.

Jika ditanya, pernah nggak merasa lelah membacakan buku atau mendongeng untuk anak? Tentu sebagai manusia, kadangkala muncul rasa malas atau lelah. Namun satu yang hal yang selalu menjadi suntikan energi saya adalah binar mata anak-anak. Binar mata bahagia mereka selalu menjadi penyemangat untuk kami konsisten menjalankan literasi di rumah ini.

————

MasyaAllah setelah membaca ini, aku mendapatkan inspirasi. Membangun perdaban mulai dari rumah.

AMB

Utan Kayu, 120919:10.25

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s