Games Level 11-Day 3- Peran Orang Tua Dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak

Waktu Presentasi : 22-02-2020

  • Apa peran orang tua dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak?
    Setiap anak lahir dengan fitrahnya masing-masing. Tugas orang tua adalah membangkitkan fitrah yang dimiliki anak, agar fitrah-fitrah tersebut mampu berkembang optimal. Termasuk fitrah seksualitas.
    Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.
    Menumbuhkan fitrah ini adalah tanggung jawab orang tua (ayah dan ibu) dan tentu harus di didik agar tidak menyimpang dan tumbuh menjadi peran-peran istimewa, terbaik, dan adab/akhlak mulia. InsyaAllah karena fitrah sudah di berikan Allah sejak dari kita lahir maka semua anak mempunyai fitrah yang baik. Lalu apa Tantangan orang tua?? Banyaaak.. karena sekarang perilaku menyimpang banyak di lingkungan kita dan dilakukan terang2an. Bisa dari medsos maupun lingkungan pertemanan. Makanya sebagai orang tua harus lebih membentengi anaknya agar kuat pondasi fitrahnya.
  • Apa solusinya?? Solusinya Adalah orangtua harus menangkal atau melindungi anak2nya dari permasalahan atau ancaman yang datang dari dalam keluarga sendiri maupun dari luar keluarga seperti sekolah, komunitas, maupun masyarakat. Nah setelah ke pengertian peran orang tua dalam meningkatkan fitrah seksualitas anak, juga biar semakin kuat nih kenapa sih orang tua tuh punya peran yg besar sekali dalam membangkitkan seksualitas anak? nah untuk bagian ini akan dijelaskan oleh Teh Mentari, mangga, semakin kepo nih, kalau kita tahu strong why kenapa peran orang tua sangat penting jadi semakin mantap kan yaa kitanya juga 🤭
  • Kenapa sih peran orang tua itu penting banget dalam hal fitrah seksualitas ini ?
    Orang tua adalah orang pertama dan utama yang dimiliki oleh anak sejak lahir. Dari lahir sama orang tua, bangun tidur ketemu orang tua, belajar adaptasi dengan orang tua. Mau tidak mau, kurikulum keluarga yang diterapkan oleh orang tua sejak awal akan terus dibawa oleh sang anak sampai besar
    Tugas orang tua salah satunya membimbing anak anaknya. Selain itu juga sebagai pengawas, pengoreksi jika ada penyimpangan, dan pemberi contoh yang baik kepada anak – anaknya.
    Dari alasan ini sudah terlihat
  • kenapa sih peran orang tua itu penting 🤭
    Orangtua Adalah Rolemodel anaknya

Trus, ada ga sih akibatnya kalo orang tua ga berperan maksimal dalam hal fitrah seksualitas ini ?Tentu saja ada.

Salah satunya akan terjadinya pola pikir dan tindakan yang tidak sesuai dengan fitrahnya, seperti laki – laki yang cenderung feminim, perempuan yang terlalu maskulin bahkan yang sangat mengerikan adalah penyimpangan – penyimpangan yang bisa saja terjadi.

Meskipun banyak faktor yang mendasari terjadinya penyimpangan, kosongnya peran orang tua lah yang sangat berperan dalam terjadinya hal tersebut.


Dari riset yang dilakukan Ibu Elly Risman untuk ibu 25-45 tahun, bekerja tak bekerja, ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah. Mereka tidak punya tujuan pengasuhan. Mereka tidak tahu anak ini mau di bawa ke mana?
Bu Elly Risman menyarankan agar orangtua mulai merumuskan tujuan pengasuhan sejak anak dilahirkan. oleh karena Perlu membuat kesepakatan bersama suami, prioritas apa saja yang diberikan kepada anak dan bagaimana cara pendekatannya.
serem kan ya kalau jadi orang tua kita ternyata engga terlalu tau tentang pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas


Nah disini Bu Elly Risman memberikan tips nih buat para orang tua dan calon orang tua untuk dalam meningkatkan
fitrah seksualitas anak :
1. Tanggung Jawab Penuh
Ketika bicara mengenai pola asuh anak, peran seorang ibu seringkali dianggap hal paling utama. Padahal menurut Elly, sosok ayah dalam mendidik anak tak kalah penting. Di era digital seperti sekarang ini, ayah dan ibu harus memiliki pandangan yang sama, yaitu sama-sama bertanggungjawab atas jiwa, tubuh, pikiran, keimanan, kesejahteraan anak secara utuh. Masih banyak orangtua muda masa kini yang melepaskan anak-anaknya secara total di tangan orang ketiga, entah mertua atau pembantu. Namun jika hal ini terpaksa dilakukan, maka perlu dicek kembali bagaimana sejarah dari orang yang Anda rekrut untuk menjaga buah hati.
“Sebuah tesis pernah membahas mengenai peran ayah. Anak-anak yang kurang sosok ayah, dan dia punya anak laki dia nakal, agresif, narkoba, seks bebas. Anak perempuan biasanya depresi, seks bebas. Jadi ayah harus selalu ada, pulang ke rumah di era digital,”
2. Kedekatan
Perlu adanya kedekatan antara ayah dan anak, juga ibu ke anak. Kedekatan ini bukan hanya berarti melekat dari kulit ke kulit, melainkan ‘jiwa ke jiwa’. Artinya, Anda dan pasangan tak bisa hanya sering memeluk sang anak namun juga harus ‘dekat secara emosional’. “Banyak anak yang tidak dapat hal itu dari kecil sehingga jiwanya hampa,”
3. Harus Jelas Tujuan Pengasuhan
4. Berbicara Baik-baik
Orangtua harus belajar berbicara baik-baik dengan anak. Tidak boleh membohongi, lupa membahas keunikan anak, dan juga perlu membaca bahasa tubuh, serta mau mendengar perasaan anak.
“Menyalahkan, memerintah, mencap, membandingkan, komunikasi seperti ini akan membuat anak merasa tak berharga, tak terbiasa memilih dan tak bisa mengambil keputusan.”
5. Mengajarkan Agama
Menjadi kewajiban orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya tentang agama. Pendidikan tentang agama perlu ditanam sejak sedini mungkin. Dalam hal ini, mengajarkan agama tak hanya terbatas ia bisa membaca Al-Qur’an misalnya, bisa berpuasa atau pergi ke gereja. Orangtua perlu menanamkan secara emosional agar anak menyukai aktivitas itu.
“Jangan kosong dan lalu dimasukkan ke sekolah agama. Tidak ada dasarnya jika begitu. Bisa dan suka itu berbeda. Bisa hanya sekadar melakukan, tapi jika suka, ada atau tidak ada orangtua dia akan tetap baik,” tutur beliau.
6. Persiapkan Anak Masuk Pubertas
Kebanyakan orangtua malu membicarakan masalah seks dengan anak dan cenderung menghindarinya. Menurut Ibju Elly Risman, pembicaraan justru perlu dimulai sejak dini dengan bahasa yang mengikuti usianya.
“Kalau sudah keluar air mani, sudah menstruasi, itu artinya mereka sudah aktif secara seksual dan sudah telat untuk menanamkan tentang pemahaman seks. Ya jadi suka-sukanya anak, dia bebas melakukan berbagai macam hal”
7. Persiapkan Anak Masuk Era Digital
Bukan berarti Anda harus memberikannya gadget sejak bayi. Namun mengajarkan anak jika penggunaan gadget ada waktunya dan memiliki batasan untuk itu. Akses internet pun perlu dibatasi untuk mencegah anak melihat situs yang tidak diinginkan.
“Ajarkan mereka untuk menahan pandangan, menjaga kemaluan. Karena jika otakmu rusak, kemaluanmu tidak bisa dikendalikan. Jika kita tidak membicarakan, anak tidak tahu bagaimana akan bersikap.”
Kedepankan komunikasi sebagai pengganti gadget.

jadi sebenernya untuk bisa membangkitkan fitrah seksualitas anak dimulai dengan Tanggung Jawab menimbulkan peran orang tua penuh untuk belajar juga membersamai anak dalam pengasuhan, selain itu juga komunikasi adalah koentji dari semua perkembangan fitrah seksualitas anak


jadi setelah jadi orang tuapun tetep yaaa belajar sepanjang masa bersama anak, jadi inget Hadis atau pepatah agak lupa euy Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat

khususnya untuk anak perempuan :
menurut fitrah based education V2.5, Usia 7-10 tahun : kedekatan dengan ibu terkait belajar
peran merawat dan melayani, misalnya bisa dimulai dari :
menyiapkan masakan untuk keluarga
membuatkan minuman saat ayah pulang kerja
beberes merapihkan rumah
ibu menjelaskan terkait konsekuensi adanya rahim dan sel telur 9 mungkn termasuk peristiwa
haid tiap bulan.
Mengajarkan tentang pentingnya pendidikan bagi seorang ibu, menjadi seorang ibu haruslah
terdidik karena ibu adalah madrasah/sekolah pertama bagi anak-anaknya. Melibatkan anak
dalam menyiapkan hidangan yang bergizi bagi keluarga. Dan ibu menjadi tempat pertama
yang menjelaskan tentang konsekuensi adanya rahim di tubuh perempuan.


Sedangkan untuk anak laki-laki :
pada usia 10-14 tahun anak lelaki didekatkan ke ibunya agar seseorang lelaki di
masa balighnya yang tertarik dengan lawan jenis memahami empati bagaimana
lawan jenis harus diperhatikan, dipahami diperlakukan dari kacamata
perempuan. intinya ibu menjadi sosok perempuan ideal pertama, sekaligus
tempat curhat baginya. tanpa kedekatan dengan ibu pada tahapan ini, anak lakilaki tidak pernah memahami perasaan, pikiran, dan penyikapan terhadap
perempuan dan istrinya kelak.
contohnya ibu menjadi teman ngobrol yang seru, bisa juga melibatkan anak
lelaki dalam meminta pendapat terkait suatu keputusan/masalah.


Nah semuanya juga tidak melulu tugas Ibu adapun peran pentng dari Ayah juga, lebih detailnya nanti akan dibahas oleh kelompok selanjutnya 🤭
Jadi ayah dan ibu berperan semua yaa,,

#Day3 #Level 11 #fitrahseksualitas#ibuprofesional#bunsaypranikah#batch5

Pondok Kelapa, 04032020:2121

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s