Games Level 11 – Day 7 – Menjaga Diri dari Kejahatan Seksual

Waktu presentasi di WAG : 26-02-2020

Insya Allah, izinkan kelompok kami malam ini untuk mempresentasikan materi ‘menjaga diri dari kejahatan seksual’. Kasus ini memang cukup menyita perhatian yaa akhir-akhir ini. Miris juga jika melihat korbannya juga ada yang masih anak-anak .

Untuk itu, mari sama2 belajar dan berbagi informasi tentang kasus tersebut. Tujuannya supaya kita lebih mampu meningkatkan kewaspadaan, jangan sampai orang2 di sekitar kita (termasuk diri kita) menjadi korban dari kejahatan seksual.

Kami mencoba membagi 4 bahasan yang bisa kita diskusikan bersama yaitu:
📰 1. Maraknya kasus pelecehan / kejahatan seksual
🕴2. Pola & ciri pelaku kejahatan seksual
💌 3. Melindungi keluarga (putera dan puteri ) kita dari kejahatan seksual
🧕4. Ajaran dan pemahaman interaksi dengan lawan jenis

Diskusi malam ini akan ditemani oleh teman kita, @⁨Ilsha Miyonda⁩.
Sebelumnya kita coba pahami dlu ya.. apa sih kejahatan / pelecehan seksual itu
Pelecehan seksual adalah perilaku atau perhatian yang bersifat seksual yang tidak diinginkan dan tidak dikehendaki dan berakibat mengganggu diri penerima pelecehan. Pelecehan seksual mencakup, tetapi tidak terbatas pada: bayaran seksual bi la menghendaki sesuatu, pemaksaan melakukan kegiatan seksual, pernyataan merendahkan tentang orientasi seksual atau seksualitas, permintaan melakukan tindakan seksual yang disukai pelaku, ucapan atau perilaku yang berkonotasi seksual; semua dapat digolongkan sebagai pelecehan seksual. Tindakan ini dapat disampaikan secara langsung maupun implicit.

Ini beberapa prilaku yg masuk ke dalam kejahatan seksual
Kita bahas sedikit yaa.. bagaimana kasus seprti ini yang terjadi di indonesia (kumpulan berita) agar kita ‘sadar’ dan waspada sama kejahatan seksual ini.

Dilansir dari detik.com, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat ada 1.500 laporan kekerasan seksual terhadap anak. Data itu tercatat secara nasional dari sistem informasi online KPPPA per Januari-Juni 2019. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada sebanyak 21 kasus kekerasan seksual dengan jumlah korban mencapai 123 anak di satuan pendidikan sepanjang 2019, terdiri atas 71 anak perempuan dan 52 anak laki-laki. Mirisnya pelaku seksual terhadap anak didominasi oleh orang terdekat sebesar 80,23 persen, sedangkan 19,77 persen dilakukan oleh orang tidak dikenal.

Hasil penelitian mengenai kekerasan seksual oleh Balai Besar Penelitian Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta (B2P3KS) Kementerian Sosial be kerjasama dengan End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children for Sexual Purpose (ECPAT) Indonesia pada tahun 2017;
(1) Penelitian dilakukan di Jakarta Timur, Magelang, Yogyakarta, Mataram dan Makasar. Penelitian yang dilakukan terhadap 49 anak yang mengalami kekerasan seksual. Penelitian ini melibatkan orangtua, guru, kepala panti, pekerja sosial dan stakeholder.
(2) lebih dari 50% kasus kekerasan seksual anak dilakukan oleh anak
(3) pelaku kekerasan seluruhnya berjenis kelamin laki-laki, dengan rata-rata usia 16 tahun
(4) 67% kekerasan seksual dilakukan oleh pelaku melalui paksaan
(5) 30% bentuk kekerasan yang dilakukan melalui sentuhan/rabaan organ sensitif dan 26% hingga berhubungan badan
(6) 30,56% tempat terjadinya kekerasan seksual diantaranya dirumah teman, 19,4% dirumah korban
(7) 87% pelaku dan korban telah saling mengenal
(8) korban kekerasan seksual rentng usia 5-17 tahun
(9) karakteristik korban sebanyak 35.44% bersifat pendiam, cengeng dan pemalu.
(10) 24.05% bersifat hiperaktif dan bandel. 3.92% senang berpakaian minim.
(11) karakteristik sosial ekonomi keluarga pelaku maupun korban 55% merupakan keluarga yang didampingi orangtua, 45% merupakan keluarga cerai/meninggal.

Banyaak ya angka2nya…boleh teman2 sambil dibaca2 dulu yaa…
Dari data tsb, kita paham yaa.. kasus ini benar adanya dilingkungan masyarakat.. trus bagaimana kita bisa lebih waspada?

Bisa memperhatikan orang2 disekitar kita, apa ada sikap atau perkataannya yg mencurigakan.. atau jangan2 ada ciri2 pelaku pada dirinya..

Kita bahas yuks, pola dan ciri pelaku kejahatan seksual ini
Sekalipun perilaku dan motif bisa bervariasi antar pelaku, tetapi setidaknya ada 4 dimensi yang disusun kelompok pendu-kung korban pelecehan seksual ;

  1. “public” vs. ”private” . Mereka yang masuk dalam kategori “public” adalah mereka yang menunjukkan perilaku/sikap melecehkan itu di hadapan orang lain, artinya, dia tergolong orang yang “show off”. Mereka yang masuk dalam kategori “privat” umumnya sangat ingin tampil konservatif dan baik, tetapi ketika mereka berada sendirian dengan sasaran korban, perilaku mereka berubah sama sekali. Si “privat” sangat menikmati tipu muslihat dan ketidaktampakan perilakunya ini.
  2. si “untouchable” vs.”risk taker”. Si “untouchable” yaitu mereka yang tidak menimbang konsekuensi dari perilakunya. Ia percaya bahwa ia sepenuhnya mengendalikan situasi, bebas dari resiko. Ia orang yang narsistik, grandiose, dan justru berlagak mempunyai relasi seksual dengan sasaran korban. Ia menikmatinya sebagai challenge to the system. Tipe ke 2 adalah orang yang sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang secara moral salah. Karenanya ia cenderung menyalahkan korban, menyatakan korban sebagai orang yang mengambil keuntungan atas dirinya, dan memposisikan dirinya sebagai korban.
  3. “seducer-demander” vs. ”Passive-Initiator”. Tipe pertama adalah seorang yang lihai
    “memainkan kekuasaan”. Dialah yang secara aktif merancang tindakannya dengan memanfaatkan posisinya. Tipe pertama yang “seducer” menggunakan posisinya karena ia membutuhkan rasa diinginkan dan dicintai; “demander” memakai posisinya untuk membuat target tahu “posisi dia yang se-mestinya”. Tipe kedua, “passive-initiator” mengawali tindakan dengan “memuji” atau “menggoda”. Mereka beranggapan bila korban “menjawab” (melakukan kontak seksual) maka apa yang terjadi bukan kesalahan mereka. Mereka mengatakan korbanlah yang “meminta”.
  4. “obsessive” vs. ”Don Juan”. “Obsessive” adal ah mereka yang merasa berkuasa, ingin dihormati, menjadi pusat relasi; sebenarnya mereka adalah orang yang merasa “tidak berhasil” di tempat kerja. “Don Juan” (“Juanita”) melakukan pelecehan pada banyak orang, sering lupa wajah/nama korban, dan melakukan p elecehan itu atas dorongan untuk “mengalahkan”.

    Hampir tidak ada ciri-ciri yang begitu mencolok yang menunjukkanseseorang adalah pelaku kejahatan seksual. Diperluka kewaspadaan untuk menyadari “keberadaannya” di sekitar kita. Ya, di sekitar kita. Karena dari kasus-kasus yang terjadi, banyak di antaranya pelaku kejahatan seksual ini adalah orang terdekat di lingkungan keluarga korban. Meski demikian, kita dapat mengamati beberapa kebiasaan yang dapat membantu kita agar lebih waspada, yaitu:
    Pelaku kejahatan seksual biasanya menggunakan kendali dan kekuatannya, bisa melalui tindakan atau menghasut pikiran melalui perkataan yang diucapkan, untuk menengaruhi korban.
    Pelaku kejahatan hidup dalam “dunianya” sendiri, bahkan cenderung lihai dalam menyembunyikan perilaku aslinya.
    Pada awalnya mereka akan melecehkan korban secara emosional dan psikologis, kemudian berlanjut ke tujuan utama yaitu pelecehan seksual.
    Beberapa kebiasaan yang melekat pada diri para pelaku kejahatan seksual adalah:
    memberikan perhatian yang kadang berlebihan
    manipulatif
    overprotective
    senang mengatur dan egois

    Karena bahaya kejahatan seksual ini bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.. maka sudah sebaiknya kita berhati2.. kalau pada orang dewasa saja bisa terjadi. Apalagi anak2 yang rentan jadi korban..
    Karena bagi pelaku mereka termasuk target yang mudah untuk disakiti

    Apalagi dari data banyak kejahatan seksual pada korban usia 5 – 17 thn

    Trus.. sebagai orang tua / keluarga.. apa yang harus kita lakukan? Agar keluarga kita (putera puteri kita) tidak menjadi korban..

    Buat peraturan keluarga yang mengatur privasi berpakaian, mandi, tidur, dan kegiatan pribadi masingmasing anggota keluarga.
  5. Mengajarkan cara untuk menolak tindakan-tindakan tertentu seperti menggelitik, memeluk, atau mencium. Perlu diwaspadai juga bahwa perilaku-perilaku seperti ini dapat dilakukan oleh orang dari lingkungan keluarga. Berikan pengertian bahwa penolakan tersebut demi menjaga kenyamanan si anak.
  6. Berikan penjelasan pada anak tentang perbedaan sentuhan sayang vs sentuhan tidak sopan. Anggota tubuh adalah berharga dan harus dilindungi, ada area-area pribadi yang tidak boleh disentuh oleh orang lain kecuali untuk keperluan pemeriksaan atau dibersihkan. Beri juga penjelasan kepada anak bahwa tidak boleh melakukan hal serupa pada bagian tubuh orang lain.
  7. Berikan penjelasan pada anak tentang perbedaan antara rahasia dan kejutan. Rahasia adalah hal yang disimpan rapat-rapat agar tidak menjadi “masalah” bagi orang lain, sedangkan kejutan biasanya memberikan rasa senang dan bahagia. Ketika ada orang yang menawarkan kejutan namun perlu dirahasiakan, hal ini tidak wajar dan perlu segera dilaporkan.
  8. Memantau dan mendampingi ketika anak mengakses berbagai teknologi terkini, khususnya aktivitas yang melibatkan penggunaan jaringan internet (berkirim pesan, email, berbagi foto/video, mengakses situs-situs asing, dll).
  9. Melatih dialog agar anak terbiasa dengan kata-kata yang menyangkut keselamatan diri me

Day7 #Level 11 #fitrahseksualitas#ibuprofesional#bunsaypranikah#batch5

Pondok Kelapa, 05032020:1247

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s