Kendaraan Hidayah atau Kurir Kesesatan?

“I am agnostic now. Sorry, I am not into about religion”

Kalimat ini, kurang lebih kalimat yang akhir-akhir ini agak ramai diucapkan sama para millenial, sekaligus boleh jadi hal yang luput dari perhatian banyak orangtua.

Cukup ramai dan menggeliat pemahaman ini, dari komunitas game online, medsos, k-pop, anime, dan komunitas lainnya yang cukup digandrungi oleh anak muda sekarang…

Kenapa sih pemahaman ini bisa lumayan banyak diterima sama banyak anak muda sekarang?

Salah satu yang paling sering terjadi adalah:

Adanya perjalanan spiritual yang ditabukan bagi anak-anak….

Sesederhana, pertanyaan seperti:

‘mengapa Tuhan perlu disembah?’
‘Tuhan itu lelaki atau perempuan?’
‘katanya Maha Penyayang, kenapa ciptakan neraka?’

dan pertanyaan itu seringkali dijawab dengan sesuatu:

‘HUSS, gak boleh nanya kayak gitu! Dosa! Imani aja! Tidak boleh ditanyakan!’

Diperparah….

Jika kita sebagai orangtua, sering memperkenalkan Allah kepada anak, dengan jalan nafsu seperti:

‘HEH, Allah gak suka yah anak nakal kayak gini!!’

‘Awas loh, klo gak sholat-sholat, nanti Allah lempar ke neraka!’

Kalau dua hal ini saja, dibiarkan terus-menerus menjadi SOP keseharian kita dalam rumah tangga….

itu layak buat menjadi renungan, apakah peran kita dalam rumah itu, sebagai kendaraan hidayah bagi anak-anak kita…

atau

sebagai kurir pembawa kesesatan bagi anak kita?

Kenalilah anak-anak tentang Allah.

Tanamkanlah kecintaan kepada Allah.

Ajarkanlah nama-nama Allah.

Ajarilah rasa cinta kepada Allah.

Tanamkanlah Insight, Tanamkanlah rasa cinta kepada Allah.

Anak adalah tamu istimewa yang kita undang atas persetujuan Allah.

Selama ini kita memperlakukan anak sebagai tamu atau sebagai milik kita?

Getaran-getaran kerinduan ketika bertanya dengan pertanyaan yang unik-unik.

Jika ibu adalah sekolahnya. Maka ayah adalah kepala sekolahnya.

Cara mengontrol tindakan, pikiran dan perasaan. Kita tidak akan bisa.

Anak-anak meniru cara kita berpikir dan bertindak.

Nasehat tanda cinta?

Menasehati anak dalam kondisi marah sama saja seperti menyiram bensin dalam api.

Jika merasa kaku dengan anak atau pasangan. Maka bercanda lah.

Contoh percakapan dengan anak.

Bawa hadiah buat anak. “Nak, ini ada titipan hadiah dari Allah melalui Bunda”.

Allah selalu memberikan yang terbaik. Ujian datang bukan untuk disesali. Ujian datang agar kita datang ke Allah dan meminta jawabannya.

Jangan sampai menjadi surga diluar rumah tapi menjadi neraka di dalam rumah.

150621.22.04

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s